Pembelajaran Mandiri dan Peningkatan Mutu Unpar

Pendidikan dan pengajaran adalah landasan pertama dari tri dharma perguruan tinggi. Landasan ini, salah satunya merepresentasikan bagaimana hubungan antara pengajar/pendidik dan peserta didik dalam proses belajar mengajar. Seyogyanya, komunikasi dalam pembelajaran tersebut dapat berlangsung dua arah.

Tak terkecuali Unpar, aspek pendidikan dan pengajaran dinilai cukup baik, tentu jika dilihat dari sisi outputnya, yaitu para lulusan Unpar yang berkiprah di berbagai bidang profesi. Demikian yang disampaikan Dr. Paulus Cahyono Tjiang Wakil Rektor Bidang Akademik yang ditemui tim Publikasi Unpar.

Beliau mengatakan, jika dilihat dari sisi pembelajaran di masa sekarang, disadari bahwa Unpar pada umumnya masih menganut sistem konvensional. Konvensional itu maksudnya, “Gurunya ngajar, nerangin di papan tulis (sekarang hampir semua pake power point), mahasiswanya dengerin, nyatet.” Tambahnya, “Syukur kalo ada yang bertanya, satu dua.”

Di sisi lain, pembelajaran yang ada belum sepenuhnya mendorong mahasiswa untuk dapat belajar mandiri melalui berbagai fasilitas yang telah dimiliki oleh Unpar. Artinya setelah selesai perkuliahan, mahasiswa seyogyanya bisa bertanya pada dosen di luar kelas; memanfaatkan fasilitas Interactive Digital Learning Environment (IDE) Unpar; dan perpustakaan digital.

Unpar juga menyediakan perpustakaan digital. Namun hingga saat ini, ungkapnya, mahasiswa masih belum memanfaatkan fasilitas tersebut secara maksimal, hanya mengandalkan apa yang ada di kelas. “(Ada) perpustakaan digital sehingga orang hampir tidak perlu ke sana tapi bisa mengakses buku. Nah, itu belum dimanfaatkan dengan baik oleh mahasiswa,” katanya.

Terkait metode ajar, Paulus menyebutkan bahwa khususnya perguruan tinggi tentu tidak lagi menggunakan one way system. Di dalam standard nasional pendidikan tinggi disebutkan, sejumlah metode pembelajaran yang dimungkinkan untuk diterapkan dalam kegiatan perkuliahan. “Tetapi saya boleh katakan semuanya itu bukan lagi one way discussion. Semuanya itu two ways ya. Paling sedikit diskusi aja. Jadi ya, itu sudah dua arah,” terangnya.

Ia menyadari bahwa masih banyak hal yang perlu Unpar kembangkan. Di tahun 2018 mendatang, Unpar rencananya akan mengubah kurikulum sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam standard nasional pendidikan tinggi. “Ya, memang berat. Banyak prodi (program studi) yang belum selesai membuatnya (kurikulum)”, Paulus mengungkapkan. Tantangan yang tengah dihadapi Unpar adalah bagaimana memilah dan menentukan mata kuliah yang diperlukan. Bagaimana bobot serta kontennya, kata beliau, itu juga menjadi hal yang dipertimbangkan. Termasuk upaya untuk mencapai tujuan dalam menghasilkan lulusan  berkualitas baik.

Pembelajaran mandiri

Tak dapat dipungkiri, perkembangan di bidang teknologi, informasi, dan komunikasi kian pesat. Tentu saja hal ini juga berdampak pada pendidikan tinggi. Unpar, terang Paulus turut menanggapi adanya penerapan pembelajaran mandiri di bidang pendidikan tinggi terutama terhadap respon adanya digitalisasi.Kita sudah merespon itu dengan menggunakan IDE ya.” ucapnya.

Saat ini, Unpar tengah melakukan upgrade IDE modul 3. Menurut informasi yang didapatnya dari Biro Teknologi Informasi (BTI) Unpar, tampilan yang ada pada modul 3 lebih menarik. Modul tersebut menawarkan fitur baru seperti video. Sebelumnya, para tenaga pendidik hanya bisa mengunggah buku kuliah dan bahan ajar dalam format power point. Ia berharap, nantinya mahasiswa dapat menggunakan fasilitas tersebut dengan baik.

Pusat Inovasi dan Pembelajaran (PIP) Unpar, dalam hal ini juga sangat mendorong dosen maupun mahasiswa untuk memaksimalkan fasilitas IDE. Setiap semesternya, PIP mengadakan pelatihan IDE bagi para dosen guna menunjang kegiatan pengajaran.

“Nah, dosen-dosen kita juga belum sepenuhnya ya (menggunakan IDE).” Tapi menurut saya, kita harus berubah,” ujar Paulus yang juga merupakan dosen Fisika Unpar.

Dalam tanggapannya terkait metode pembelajaran mandiri, ia mengatakan di masa mendatang universitas akan terus berupaya mengubah perannya menjadi sebuah komunitas. Kita pun, tambahnya, tidak perlu ada dalam sebuah gedung yang sama untuk melakukan proses belajar mengajar. “Dan kalo sekedar komunitas, kita bisa belajar (dimana saja). Atau di rumah? Yang mungkin jauh dari Unpar dan sebagainya tetapi kita tetap dalam satu komunitas belajar,” jelasnya.

Tingkatkan standard mutu

Berbicara mengenai kemajuan Unpar, tentunya kita berbicara tentang penjaminan mutu. Salah satu hasil visitasi BAN-PT beberapa waktu lalu membuktikan bahwa Unpar memiliki perencanaan standard mutu yang baik. Namun, Paulus mengakui bahwa Unpar masih harus berbenah. Terutama, dalam hal evaluasi dan tindak lanjut terkait penjaminan mutu.

Paulus mengatakan, “Kita semua (Unpar) sadar bahwa kita harus berubah, ya. Kita harus meningkat standardnya. Ya, terlebih dahulu kita harus penuhi dulu standard yang kita tentukan. Dan secara perlahan kita meningkat, meningkat, meningkat.” Dan, lanjutnya, dengan cara begitu maka Unpar akan menjadi sebuah perguruan tinggi yang bermutu. Unpar akan menjadi perguruan tinggi yang terkemuka.

Harapannya, Unpar akan selalu siap kapanpun tim asesor baik nasional maupun internasional akan melakukan visitasi maupun asesmen terhadap standard dan mutu Unpar.

“Nah, itu artinya kita sudah tahu mutu kita seperti apa ya. Dan, kita tahu prosedurnya bahwa kita selalu meningkat, meningkat, meningkat. Itu harapan saya ke depan,” pungkasnya ketika ditanya mengenai harapan dalam menyambut Dies Unpar ke-63 pada Januari 2018 mendatang.

(Wawancara: Dr. Paulus Cahyono Tjiang Wakil Rektor Bidang Akademik)

X